Kadang aku sendiri bingung. Berkali-kali aku melakukannya, tapi tak pernah jera mengulanginya kembali. Padahal, harus ku harus mengorbankan perasaan orang lain untuk setiap pengulangan kisah seperti ini.
Harus bagaimana? Aku tak bisa menolak perhatianmu. Setiap hal yang kau berikan, tak ingin ku menyia-nyiakannya. Karena jujur saja, aku memang menginginkan dan mengharapkannya. Apapun itu, asal darimu.
Ku tau ini salah. Tapi, aku menikmatinya. Ku pikir semuanya akan baik-baik saja jika diantara kita belum terjalin ikatan melebihi teman. Biarlah perasaan itu tumbuh seliar yang ia mau. Biarkan aku mendapatkan perhatianmu melebihi yang lain. Biarkan aku menikmati perasaan yang dibungkus tali pertemanan ini. Begitu pikirku pada awalnya.
Namun, ternyata aku masih menjadi penakut. Ketika perasaan ini mulai tumbuh dan begitu terasa, aku ingin menjauh. Ketika kau sudah berani bersikap melebihi biasanya, aku ingin semua kembali ke titik awal. Ketika tidak hanya kita yang merasakan kehadiran perasaan itu, aku ingin menyudahinya. Karena aku harus menjaga diriku dan identitasku. Karena aku ingin memiliki perbedaan dengan mereka yang belum belajar. Karena aku harus menjadi seseorang yang pantas untuk ditunggu. Maaf, lagi-lagi aku harus egois.

Surabaya, 3 Oktober 2013 | @dyahokta_via
Pernah merasa hatimu dibolak-balik seratus delapan puluh derajat? Saya pernah! Memang hanya berupa hal-hal kecil, tapi bukankah seorang bayi bisa tumbuh menjadi raksasa seperti Hagrid? Iya, gak ada hubungannya. Gak usah dipikirin.
Pertama, pengalaman saya bersama mie instant rasa soto. Dulu, saya sekali mie instant rasa soto. Tiap pengen masak mie, pilihan saya selalu jatuh pada mie instant rasa soto (jika sedang tidak ingin mie goreng, mie ayam dan mie instant rasa lainnya :P). Hingga suatu ketika tubuh saya diserang virus. Saya sakit! Panas dan mual. Pada saat lidah tak lagi bisa merasakan nikmatnya makanan enak, saya memilih mie soto sebagai makanan pokok selama sakit. Memang, saya menikmati mie tersebut. Tapi, beberapa saat setelah itu saya dipaksa untuk mengeluarkannya melalui organ yang sama saat saya memasukkannya. Rasanya tentu saja GAK ENAAAAAKKKKK!!! Sejak saat itu saya trauma, saya tidak mau lagi makan mie soto meski dalam keadaan sehat. Jangankan makan, mencium baunya saja sudah berhasil membuat saya sedikit mual. Hmmm... iya, memang berlebihan. Tapi, itulah yang terjadi. Kecintaan saya terhadap mie soto dibalik seratus delapan puluh derajat! Sangat menyedihkan, bukan? Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah lelah membenci mie instant rasa soto, saya kemudian memberanikan diri untuk mencobanya kembali. Rasa tersebut muncul saat saya tidak lagi merasa mual saat mencium baunya. Dan ternyata berhasil! Iya, hati saya berhasil dibalik lagi seratus delapan puluh derajat! Luar biasa!
Kedua, kali ini tentang anime. Iya, yang lagi banyak digandrungi para pemuda pemudi itu loh. Awalnya, saya merasa heran. Kok ada ya yang suka sama anime Naruto yang sama sekali tidak menarik itu? Bukan Cuma kisahnya yang boongan, orangnya juga boongan! Kalian tau kan kalo yang bergerak-gerak itu Cuma gambar bukan orang? Tau kan? Terus kenapa masih suka? Apa menariknya? Dan, hmmm... saya mengerti perasaan kalian sekarang. Anime itu memang menarik! Memang kisahnya boongan. Memang orangnya juga boongan. So what? Masbuloh? Ceritanya menarik kok! Dan terkadang ada pelajaran yang bisa kita ambil. Percaya deh.
Ketiga, terong! Warnanya ungu, lambang wanita sholihah (?). Masakan terong sama sekali tidak menarik awalnya. Dan memang seperti itu hingga sekarang. Tidak ada yang menarik dari tampilan sebuah terong! Sama sekali tidak ada! Tapi, kenapa saya jadi suka padahal awalnya tidak? Jadi, ceritanya begini *benerin kerudung*. Dahulu kala waktu saya masih imut-imut, saya dan teman-teman seperguruan (?) diundang untuk membaca dhiba’ dan doa-doa oleh seorang tetangga. Setelah semuanya selesai, kami dijamu dengan masakan terong. Karena tidak ada pilihan menu lain, saya terpaksa memakan terong tersebut padahal awalnya tidak suka. Saya tidak suka bentuk dan warnanya. Jadi, saya tidak pernah makan terong sebelumnya. Saya mencoba untuk berani memakannya. Gigitan pertama. Gigitan kedua. Gigitan ketiga. Dan OMG KOK RASANYA ENAK BEGINIIIHHH??? KENAPA GAK ADA YANG NGASIH TAU KALO RASANYA ENAAAKKK??? Dan setelah itu saya mulai menyukainya. Seratus delapan puluh derajat lagi.

Keempat? Apa yang keempat? Saya cari dulu ya. Entar saya tulis disini. Oke? ;)
Entah kenapa tiba-tiba banyak yang suka lagu ini, khususnya mbak-mbak dan temen-temen sebaya saya. Bisa jadi karena faktor umur dan lingkungan.
Untuk seorang gadis seusia saya (apalagi diatas saya), perbincangan tentang ‘pernikahan’ memang sedang hits. Meski saya menarik diri dari perbincangan semacam itu. Selain karena belum menemukan alasan atas pertanyaan ‘mengapa harus menikah di usia yang begitu muda?’ juga karena belum menemukan tanda-tanda ada yang akan bersedia menyanyikan lagunya Brian McKnight (saya yakin Anda tau lagu yang saya maksud tanpa membaca tulisan ini hingga selesai) untuk Bapak saya :P
Menikah adalah sunnah Rasul. Menikah melengkapi separuh agama. Ya, saya tau itu. Saya setuju. Sama sekali tidak membantah. Dan memang tidak ada salahnya menikah di usia muda. Dari awal saya tidak menyalahkan nikah muda. Hanya saja saya belum menemukan alasan untuk menikah di usia yang begitu muda, beberapa jam setelah hari wisuda sarjana misalnya. Bagi yang sudah menemukan alasan yang tepat, silahkan saja. Bagi yang belum seperti saya tapi sudah ada calonnya dan orang tua merestui juga saya persilahkan. Bagi yang belum menemukan alasan (apalagi calon), mari bersama kita berdoa dan ‘berusaha’ yang terbaik. Semoga kita dijodohkan dengan seseorang yang ‘klop’ banget sama kita. Aamiin.

#nyanyisyeeek
Sir, I am a bit nervous about being here today
Still not real sure what I am going to say
So bare with me please if I take up to much of your time
See in this box is a ring for your oldest
She is my everything and all that I know is
It will be such a relief if I knew that we were on the same side
Cause very soon I hoping that I can...

Marry your daughter make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me till the day that I die
I am gonna marry your princess and make her my queen
She’ll be the most beautifull bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile when she walks down the aisle
On the arm of her father on the day that I marry your daughter

She’s been here every step since the day that we meet
I’m scared to death to think what whould happen if she ever left
So you don’t ever worry about me ever treating her bad
I’ve got most of my vow’s done so far
So, bring on the better or worse and till death do us part
There’s no doubt in my mind
It’s time I’m ready to start
I swear to you with all of my heart
I’m gonna...

Marry your daughter make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me till the day that I die
I am gonna marry your princess and make her my queen
She’ll be the most beautifull bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile when she walks down the aisle
On the arm of her father on the day that I marry your daughter

The first time I saw her Iswear I knew that I’d say I do
I’m gonna...

Marry your daughter make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me till the day that I die
I am gonna marry your princess and make her my queen
She’ll be the most beautifull bride that I’ve ever seen
I can’t wait to smile when she walks down the aisle
On the arm of her father on the day that I marry your daughter


Probolinggo

26 Ramadhan 1435 H
Sebagai seorang anak rumahan yang jarang banget kemana-mana, saya baru tau rasanya takjil pas kuliah. Tau rasanya buka di masjid selain malam Nuzulul Qur'an juga pas kuliah. Tau rasanya beli minuman yang dijual di jalanan pas ngabuburit juga waktu kuliah. Pokoknya banyak hal baru yang saya rasakan waktu kuliah. Bersyukur banget bisa kuliah di luar kota. Jadi gak terlalu kampungan gitu :P
Di masjid dekat rumah (iya masjid bukan musholla), gak pernah ada yang namanya takjil. Mungkin di kota yang berjarak sekitar 10 km dari rumah ada budaya berburu takjil. Sayang sekali, mulai dari kecil sampai hampir lulus kuliah begini belum ada budaya itu di lingkungan rumah. Bukan karena tidak ada yang mau mengantarkan makanan ke masjid, tapi hanya waktunya aja yang berbeda.
Budaya yang berlaku disini adalah budaya mengantarkan makanan saat tarawih dan tadarrus, tapi tadarrusnya hanya waktu malam hari dan ikhwan only. Karena ekonomi masyarakat disini menengah kebawah, maka tidak setiap hari ada yang mengantarkan makanan. Kadang banyak karena beberapa orang ngirimnya barengan, kadang gak ada sama sekali. Untuk menyiasatinya, dibuatlah jadwal pengiriman makanan untuk tarawih dan tadarrus. Setiap warga yang rumahnya dekat dengan masjid atau orang tua dari anak yang mengaji di masjid ini diberitau kapan mereka harus mengirim makanan tersebut. Untuk tarawih biasanya hanya berupa makanan ringan, misal krupuk atau kue-kue kecil. Kalau tadarrus biasanya makanan berat, nasi, bubur, dan semacamnya.
Sebenarnya disini juga ada budaya buka puasa di masjid, tetapi hanya pada hari Nuzulul Qur'an yaitu tanggal 17 Ramadhan yang juga sengaja ditepatkan dengan khatamnya tadarrus Al Qur'an. Selain hari itu, kami berbuka di rumah bersama keluaga masing-masing.
Selain dua 'anomali' budaya di atas, ada satu lagi budaya disini yang berbeda dengan kebanyakan daerah lain. Pada waktu menjelang berbuka, saat banyak orang sedang ngabuburit, pinggiran jalan ramai oleh penjual takjil atau buka puasa. Disini? Adem ayem. Bakso, mie ayam, mie goreng dkk memang masih buka. Tapi, tidak ada kios dadakan penjual takjil atau buka puasa disini. Situasi aman terkendali wkwkw
Tiap daerah punya budaya Ramadhan-nya masing-masing. Jangankan beda negara, beda wilayah meski masih satu provinsi aja budaya bisa berbeda 180 derajat. Beda tidak selalu berarti lawan. Dengan perbedaan, semakin berwarna dunia kita, dan tentu menjadikannya semakin indah :)

Probolinggo
26 Ramadhan 1435 H 


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabaraakatuh...

Hari ini untuk pertama kalinya saya berhasil berfoto dengan seorang profesor hehe :p
Seorang dosen yang terlihat pendiam tetapi ternyata kocak di kelas dikukuhkan hari ini sebagai Guru Besar bidang “Karakterisasi Struktur Padatan”. Turut bahagia dan bangga atas pencapaian yang telah diperoleh Pak Didik, dosen Kimia ITS Surabaya. Beliau yang terlihat biasa saja ternyata mempunyai potensi SDM yang luar biasa. Kalau kata senior sih, “Pak Didik baru terlihat pintarnya kalau ngomong”. Hihi. Memang sih, kalau belum pernah kenal beliau pasti akan beranggapan bahwa beliau orang yang biasa saja. Tidak terlihat pintar meskipun berkacamata. Di kelas pun beliau terlihat biasa saja, mungkin memang pembawaannya seperti itu. Tapi, jika telah ‘kenal’ beliau cukup dekat seperti senior saya yang S1, S2 dan S3 menjadi anak bimbing dari Pak Didik pastilah memuji-muji beliau karena kecerdasannya. Dan hari ini, beliau ‘mengumumkan’ kecerdasannya tersebut dengan menjadi Guru Besar pada umur 43 tahun.
Lebih bangga dan bahagia ketika dicantumkan ayat Al-Qur’an 94 : 5-7 pada slide presentasi orasi ilmiah pada acara pengukuhan tersebut. Melted!
Selain Pak Didik, ada satu lagi dosen ITS Surabaya ang dikukuhkan sebagai Guru Besar pada hari ini. Namanya Pak Suminar, dosen Fisika ITS Surabaya. Dan bahagia sekali karena beliau ternyata juga seorang yang agamis seperti Pak Didik. Tercantum ayat Al-Qur’an juga pada slide presentasi beliau. Sebuah ayat yang diulang berkali-kali dalam surah Ar-Rahman. Melted (lagi)!
Menjadi seorang profesor? Siapa gak pengen coba? Tapi, entahlah, saya seorang perempuan yang harus menyediakan porsi waktu lebih lama untuk anak-anak saya. Sedangkan untuk menjadi seorang profesor, tidak sedikit waktu yang harus kita ‘korbankan’. Untuk seorang laki-laki bukan masalah besar jika ia memang menginginkan gelar tersebut, karena insyaa Allah masih ada istri yang akan membimbing dan menjaga anak-anak. Nah kalo seorang istri yang menginginkan gelar tersebut, apa iya harus mengorbankan porsi waktu yang seharusnya digunakan untuk mengurus anak-anak untuk gelar tersebut? Apa iya mau menitipkan anak-anak kepada orang lain? Masa iya suami yang diminta menggantikan kita sebagai ibunya? Jika waktu kita yang seharusnya dimiliki anak-anak tidak tersita untuk mendapatkan gelar tersebut, itu tidak masalah. Karena ibu yang baik harus memiliki ilmu yang tinggi untuk mengurus anak-anak. Yang penting anak harus diutamakan :)

Surabaya
7 Rajab 1435 (7 Mei 2014)