Tampilkan postingan dengan label Great Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Great Muslim. Tampilkan semua postingan
Surat Terbuka untuk Dr. Muhammad Mursi

Saudaraku yang mulia, Dr. Muhammad Mursi..

Aku ingin mengetahui, apa rahasia yang ada antara Anda dan Allah, sehingga Dia meringankan Anda dari tugas-tugas kenegaraan, menjadikan Anda bisa fokus beribadah kepada-Nya pada bulan Ramadhan yang mulia ini, dan menjadikan kami sibuk dengan Anda?

Aku ingin mengetahui, apa rahasia yang ada antara Anda dan Allah, sehingga doa-doa kemenangan, dukungan, dan taufik untuk Anda menjadi bagian doa yang sama-sama dilantunkan oleh umat Islam di setiap tempat?

Apa rahasia yang ada antara Anda dan Allah, sehingga Anda menjadi harapan bagi orang-orang yang lemah lagi tertindas di Palestina, Suria, dan negeri lainnya untuk bisa hidup merdeka dan mulia?

Apa rahasia yang ada antara Anda dan Allah, sehingga kekuatan-kekuatan jahat di muka bumi ini berkumpul untuk menyingkirkanmu dari tampuk kepemimpinan Mesir?

Apa rahasia antara Anda dan Allah, sehingga Dia mengujimu dalam usia yg sudah cukup lanjut dengan ujian penjara di jalan-Nya agar Anda mendapatkan ketenangan di dunia dan balasan kebaikan di akhirat?

Apa rahasia antara Anda dan Allah, sehingga Anda berubah dari hanya seorang dosen di Univesitas Zaqaziq, kemudian menjadi simbol kemerdekaan dunia di setiap tempat?

Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hamba-Mu, Muhammad Mursi, tidak menggunakan kekuasaan yang Engkau berikan kepadanya untuk menzhalimi makhluk ciptaan-Mu.

Ya Allah...jangan serahkan beliau kepada orang yang jahat. Jagalah ia dengan penjagaan-Mu dan naungilah ia dengan naungan-Mu.

Ya Allah, takdirkanlah kebaikan untuknya dan untuk kami dimana pun ia berada, kemudian jadikanlah kami ridha dengannya.

(Surat ini ditulis oleh seorang pendukung Presiden Muhammad Mursi, Seorang Presenter TV Misr 25, aktivis media Islam)



Sumber: facebook :)
Bersama legiun muslimin, Uqbah bin Nafi al-Fihri sebagai panglima perang bermaksud untuk mendirikan Ibukota Islam di al-Ifriqiyah. Suatu tempat berupa semak belukar di daerah pedalaman gurun pasir menjadi pilihan karena tidak mudah dicapai oleh kapal-kapal dan pasukan perang Romawi.
Namun tempat itu ternyata penuh dengan binatang buas seperti singa dan binatang gurun yang berbisa. Hal ini meyebabkan sebagian kaum muslimin menyatakan protes karena dianggap dapat membahayakan keselamatan mereka.
Mengetahui hal itu, panglima perang Uqbah bin Nafi mengumpulkan sahabat Rasul yang tergabung dalam pasukan tersebut. Didapatlah sebanyak 12 Sahabat Rasul, lalu mereka berseru, “Hai kalian singa dan binatang pengganggu, kami adalah Sahabat Nabinya Allah, karena itu maka tinggalkanlah kami! Dan jika kami menemukan siapa pun dari kalian disini, maka kami akan membunuhnya!”
Luar biasa! Gerombolan singa, srigala dan ular-ular membawa anak-anaknya dari tempat tersebut. Binatang-binatang ini bersama kelompoknya mengamankan kawanannya masing-masing ke daerah lain. Banyak orang Berber yang masuk Islam karena peristiwa ini.
Akhirnya, dibangunlah sebuah kota baru sebagai Ibukota al-Ifriqiyah yang diberi nama Qairawan dengan fasilitas yang cukup memadai. Kota ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan, benteng pertahanan dan pangkalan perang untuk menghadapi gempuran musuh yang sewaktu-waktu bisa saja menyerang.

Mau seperti mereka para Sahabat Nabi itu? :)


Probolinggo
20 Ramadhan 1434 H

“Yang bertindak sebagai Amir (panglima perang) adalah Zaid bin Haritsah. Jika Zaid gugur, Ja’far bin Abu Thalib penggantinya. Bila Ja’far gugur, Abdullah bin Rawahah penggantinya. Dan jika Abdullah bon Rawahah gugur, maka hendaklah kaum Muslimin memilih penggantinya.”
Terjadilah perang Mu’tah antara pasukan Muslimin yang berjumlah 3.000 prajurit melawan pasukan Romawi dan sekutunya yang berjumlah 200.000 prajurit. Zaid bin Haritsah menjadi pemegang panji Islam pertama, sesuai dengan pesan Rasulullah SAW di atas.
Dengan gagah berani Zaid bin Haritsah berperang hingga kedua tangannya putus, tertebas oleh pedang lawan hingga ia menggunakan kedua lengan yang tersisa untuk memegang panji Islam. Tombak yang tertancap pada dadanya mengakhiri hidup panglima perang pertama ini, syahidlah ia. Kemudian panji Islam beralih ke tangan Ja’far bin Abu Thalib. Tidak kalah hebat perjuangannya untuk tetap menegakkan panji Islam di tengah-tengah ganasnya perang yang terjadi. Ia bernasib sama seperti Zaid bin Haritsah,  kedua tangannya putus sehingga ia gunakan lengan yang tersisa untuk menjaga panji Islam tetap berkibar . Ja’far syahid dengan 50 luka yang terdapat pada tubuh bagian depan dan tubuh yang terbelah dua. Datanglah kesempatan bagi Abdullah bin Rawahah untuk menjadi panglima perang. Ia sempat ragu beberapa detik untuk menerima amanah tersebut, tapi akhirnya panji Islam itu berada di tangannya. Nasibnya pun sama dengan kedua panglima perang sebelumnya. Ia syahid dalam perang tersebut. Panglima perang terakhir adalah Khalin bin Walid.
Ketika perang telah usai dengan kemenangan yang berada pada pihak kaum Muslimin karena pasukan Romawi dan sekutunya memilih untuk mundur, ada seorang sahabat yang bertanya, “Bagaimana keadaan Zaid bin Haritsah yaa Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Iya. Aku melihatnya sedang bersama bidadari tidur di kasur yang ditumpuk sepuluh.” Kemudian ada yang bertanya lagi, “Bagaimana dengan Ja’far bin Abu Thalib yaa Rasulullah?”. Beliau menjawab dengan kalimat yang sama. Ada lagi yang bertanya, “Lalu bagaimana dengan Abdullah bin Rawahah yaa Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Aku juga melihatnya sedang tidur bersama bidadari di atas kasur yang ditumpuk tiga.”
Begitulah keadaan ketiga pemegang panji Islam yang syahid dalam perang Mu’tah tersebut. Ketiganya mendapatkan nikmat yang telah Allah SWT janjikan bagi orang-orang yang berperang di jalan-Nya. Zaid, Ja’far dan Abdullah sama-sama tidur bersama seorang bidadari di atas kasur. Bedanya kasur yang ditiduri Abdullah bin Rawahah hanya bertumpuk tiga. Keraguan yang sempat hinggap di hatinya beberapa detik sebelum mengambil alih menjadi pemegang panji Islam ketiga membuatnya mendapat ‘diskon’ kenikmatan dari Allah SWT. Lalu, bagaimana dengan kita?
 #RamadhanCeria J
*Mohon maaf jika kalimat percakan pada tulisan ini tidak sesuai dengan yang diriwayatkan oleh para peneliti sejarah Islam. Karena saya hanya mendengarnya dari seseorang. Jika ada yang tau kalimat percakapan yang sebenarnya, silahkan ditulis di kolom komentar. Terima kasih J

Surabaya
9 Ramadhan 1434 H