Tampilkan postingan dengan label Great Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Great Story. Tampilkan semua postingan

Tau semua sama binatang landak kan? Kulit yang berduri menjadi ciri khasnya. Pertanyaan saya, bagaimana cara mereka berpelukan yaa? Bagaimana cara seorang ibu landak mengungkapkan rasa sayangnya melalui pelukan kepada anaknya?
***
Saat musim dingin, beberapa hewan melakukan aktivitas rutin tiap tahun yaitu hibernasi. Landak termasuk hewan yang tidak memiliki ritual tahunan seperti itu. Mereka biasanya mencari tempat untuk menghangatkan badan, misalnya di tempat-tempat yang sempit. Namun, hal itu tak berhasil membuat suasana semakin hangat. Bahkan sudah ada beberapa dari mereka yang mati kedinginan. Karena semakin lama jumlah mereka semakin sedikit, akhirnya mereka memutuskan untuk berpelukan agar dapat mengurangi rasa dingin yang sedari tadi berhasil menusuk-nusuk tulang mereka hingga terasa nyeri. Sayangnya, solusi tersebut malah membuat kulit mereka lecet terkena duri yang menempel pada tubuh temannya. Mereka mencoba mencari solusi lain sebelum lebih banyak lagi korban hawa dingin tersebut. Sayang sekali, satu-satunya cara agar mereka dapat bertahan hidup adalah dengan berpelukan, saling berdekatan satu sama lain. Mereka melakukannya sekalipun harus lecet-lecet. Mungkin mereka berpikir, "Mending lecet kayak gini daripada mati kedinginan". Langkah yang mereka ambil tepat sekali. Memilih untuk tetap berjamaah agar bisa terus melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.
Kita sebagai umat Islam juga harusnya begitu. Sudah menjadi keniscayaan bahwa kita juga akan mengalami hal yang sama dengan landak. Dalam jama'ah, pastilah ada saja yang akan membuat hati kita lecet. Mungkin karena kesalahan teman atau lainnya. Namun, kita harus tetap berjamaah untuk mendapatkan pahala yang lebih besar dan manfaat yang tak kalah besarnya. Karena cita-cita kita, umat muslim, hanya dapat dicapai bersama-sama dengan jama'ah. Karena akan tetap ada pahala dan barokah sekalipun keputusan atau langkah-langkah yang diambil kurang atau tidak tepat, asalkan berjamaah :)

Surabaya
18 Muharram 1435

Sambil nungguin temen ngprint, ngomongin dosen yuuuk :p
Selama hidup kurang lebih dua tahun di jurusan ini, saya baru kemaren berkesempatan mengenal sosok dosen keren ini. Namanya Pak Refdinal, dosen biokimia ITS. Begitu ramah orangnya dan sepertinya akan menyenangkan jika bisa TA dengan beliau. Sayangnya sudah booking dosen lain #eh. Selain perawakannya yang menyenangkan, sepertinya hobi beliau ngutek-ngutek organisme mikroorganisme alias merekayasa genetikanya. Sepertinya bakal seru sekali :3
Hal yang membuat saya tertarik untuk membuat tulisan tentang beliau adalah kalimatnya waktu itu, "Saya suka sekali merekayasa gen bakteri". Yup! Lagi-lagi saya menemukan orang yang bekerja sesuai passion. Tidak akan terasa waktu yang kita lalui bersama kegiatan itu ketika kita benar-benar menyukainya. Pernahkah melihat anak kecil lelah bermain? Seperti itulah ketika kita sedang beraktivitas sesuai dengan passion. Waktu seakan berlalu begitu cepatnya. Energi juga seakan tak pernah habis saat itu. Saat kita sedang ber-passion ria :3

Surabaya
28 Dzulhijjah1434 H

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah note yang ditulis oleh seorang mbak keren. Kisah peperangan antara Ramawijaya dan Rahwana tersebut benar-benar membuat mata saya berbinar-binar. Banyak tokoh inspiratif dalam cerita itu. Merasa senasib dengan dua orang tokoh, maka saya akan membahasnya disini.
Dua orang tokoh keren itu bernama Trikala dan Kalasekti, anak pungut dari patih Prahasta yang hampir saja menjadi korban kemurkaan Rahwana. Trikala dan Kalasekti awalnya tidak memiliki kesaktian. Tetapi, ketika melawan angkara murka, dua gunung kembar dapat mereka gerakkan untuk menghimpit Rahwana. Merasa ada yang senasib dengan Trikala dan Kalasekti di awal cerita? :)
Ketika tak ada yang bisa dibanggakan dari diri ini, setidaknya kita tetap berbuat baik dan melawan kemurkaan. Mungkin saatnya nanti, kita akan bernasib sama seperti Trikala dan Kalasekti. Allah akan memberikan kekuatan itu kepada yang setia di jalanNya. Atau jika kekuatan itu tak jua datang, yakini saja bahwa kebaikan kita tak akan sia-sia. Kata Umar bin Khaththab, kita menang bukan karena jumlah ataupun kekuatan yang melebihi musuh kita. Namun karena dosa kita lebih sedikit daripada musuh. Jika dosa kita sama dengan musuh, lalu apa gunanya kita 'berperang'? Bukankah sebaiknya kita dan mereka bersulang untuk kehancuran dunia? Semoga kebaikan yang kita lakukan dapat mempertajam pedang para mujahidin itu. Semoga kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi desir angin pengobat rasa sakit luka fisik mereka. Semoga kebaikan yang kita lakukan dapat sedikit membantu kemenangan kebenaran ini. Aamiin.
Karena tidak harus kita yang melakukannya langsung. Kegembiraan itu milik bersama, siapapun yang menjadi tokoh utamanya.

Surabaya 
Menjelang 26 Oktober 2013

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum J
Mencoba sharing tentang kisah seorang ibu professional yang sangat menginspirasi.
Selama acara Halal Bihalal yang saya hadiri tadi pagi, saya memilih untuk menyibukkan diri dengan membaca artikel di group WA Mbak Fargam daripada mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz keren. Group diskusi Mukhajirin Anshar khusus membahas kemuslimahan tersebut memberikan saya banyak informasi. Tidak hanya terbatas pada informasi tentang muslimah saja, tapi juga informasi lainnya yang sangat bermanfaat. Yang paling membuat saya excited adalah postingan dari seorang muslimah tentang seorang ibu professional yang rela melepaskan peluangnya untuk menjadi seorang PNS untuk menjadi housewife seperti syarat yang diajukan oleh sang calon suami. Sekarang saja masih banyak yang menginginkan pekerjaan tersebut, apalagi jaman dahulu. Saya tidak tau tahun berapa, tetapi karena anak-anak ibu professional tersebut sudah ada yang kuliahdi luar negeri, jadi kita asumsikan saja ibu ini mengambil keputusan yang sangat tepat tersebut sekitar 20 tahun yang lalu, saat PNS benar-benar menjadi dambaan banyak orang Indonesia.
Seorang Ibu bernama Septi memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sejati (hehe) dan membuang peluang untuk menjadi PNS. Alhamdulillah keputusan tersebut bukan suatu kesalahan, karena dengan memutuskan untuk memusatkan perhatian ada keluarga, Ibu Septi berhasil mendidik tiga orang anak menjadi seseorang yang jempolan. Ketiga anak ini tidak pernah menikmati pendidikan formal. Keluarga menjadi pendidik utamanya. Tetapi, meski begitu mereka tetap bisa kuliah di Singapura dengan bermodal presentasi.
Anak pertama (lupa namanya, yang saya ingat seorang muslimah) berhasil kuliah di Singapura dengan bermodal presentasi dan menjadi seorang analis keuangan (kalau tidak salah). Saya lupa tentang anak pertama ini, tapi percaya deh. Anak ini adalah anak yang hebat (y)
Anak kedua juga seorang muslimah (lagi-lagi saya lupa namanya) adalah anak yang tidak bisa hidup tanpa susu. Di usinya yang masih 9 tahun, dia sudah mempunyai peternakan dengan jumlah sapi sebanyak 5000 ekor. Kereeennn… dia juga berhasil menyusul mbaknya kuliah di Singapura.
Anak ketiga yang paling ganteng mempunyai passion dalam hal menciptakan robot. Dia pernah membuat robot dari sampah dan sekarang aktif mengajar anak-anak kurang mampu (lagi-lagi kalau tidak salah) untuk belajar membuat robot dari sampah. Kereeennn…
Kok bisa yaa mereka jadi anak hebat seperti itu? Padahal kan tidak pernah sekolah formal yaa? Katanya sih mereka itu rutin berdiskusi setiap hari dengan pemilik perusahaan besar. Mereka rela kerja menjadi apa saja, termasuk office boy, dan tidak dibayar demi ilmu yang akan mereka dapatkan dari diskusi tersebut. Subhanallah…
Terus apa lagi rahasia si ibu professional ini? Yuk intip di www.ibuprofesional.com J
NB : Tolong jangan ditiru kebiasaan saya tidak mendengarkan ceramah seperti di atas yaa :D

Surabaya

3 Dzulqa’dah 1434 H
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Baru saja membaca sebuah note facebook keren yang ditulis Mbak Yusfin “Ribuan Kilometer dari Jawa”. Beliau sedang melaksanakan KP di Bontang. Ramadhan dan Ied dihabiskan disana. Meski jauh dari keluarga, mereka (Mbak Yusfin dan dua orang temannya) sepertinya tidak akan merasa sendiri. Dari tulisan beliau, banyak orang-orang sholih dan sholihah yang siap menggantikan peran keluarga dan saudara saat lebaran tiba, meski mereka tidak akan tergantikan.
Lingkungan yang begitu kondusif tergambar dari tulisan beliau. Lingkungan yang menambah ketaatan kepada Rabbnya. Tak heran jika kekerenan beliau akan semakin bertambah sekembalinya dari KP tersebut. Yang keren makin keren (Mbak Yusfin). Yang nggak keren makin nggak keren (Saya T.T).
Ini dia notenya, semoga bermanfaat.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kubuka catatan mimpi yang bahkan aku lupa kapan pastinya aku tuliskan. Tapi dengan segera aku berdecak kagum. Empat mimpi terwujud sempurna, lima lainnya sudah tercapai setengahnya, dan satu lagi diganti dengan yang jauh lebih baik.
Ingin meloncat-loncat layaknya anak kecil kegirangan sesaat setelah mendapat telpon dari kode yang asing, +62548. Bukan Surabaya, bukan Jombang pastinya, dan bukan pula Jakarta. Ya, itu kode dari pulau seberang, Kalimantan. Proposal Kerja Praktek yang di akhir semester lalu kami kirimkan, terjawab sudah. Tidak terbayang bagaimana rasanya di sana. Tidak mengenal siapa-siapa dan belum tahu harus berbekal apa. Yang ada hanya bahagia karena kami lebih dimudahkan daripada teman-teman yang masih saja menunggu jawaban. Satu mimpi yang jauh lebih baik itu adalah Kerja Praktek di Bontang. Pada catatan mimpi itu tertulis tujuan KP yang lain.
Setelah berburu tiket murah dan informasi tempat tujuan, singkat cerita saya, Rani, dan Yunus berangkat dari bandara Juanda Surabaya tanggal 9 Juli 2013. Dengan diantar ibu saya dan sopir taxi yang sangat lantang mengucap “Bismillah” setiap kali gas akan diinjak, serta menuturkan banyak pesan untuk tiga penumpang wanitanya itu, tentang keamanan di jalan raya. Pertama kali naik pesawat, melihat tanah tak berpenghuni di pulau Madura masih luas terhampar, batas laut yang nampak jelas hijau-birunya, awan putih berarak di bawah kami dan ada kalanya hanya putih bersih yang nampak dari jendela, seperti sedang berada di alam yang lain. Tak sampai dua jam, tibalah kami di Balikpapan. Persis waktu perjalanan ibu Surabaya-Jombang. Setelah itu kami meluncur ke Bontang.
Hari-hari kami dipenuhi dengan agenda full days Central Control Room pabrik. Bus dari kantor KIE ke pabrik tersedia antara pukul 6.50-7.30 WITA, sehingga kami harus bergegas melepaskan diri dari iklim Surabaya yang satu jam lebih lambat dari sini. Pulang jam 16.00 WITA dengan tempat pemberhentian yang sama. Pulang pergi lewat jalan tembus dengan hutan di kanan kirinya. Selama di pabrik, kami harus berusaha mendapatkan pelajaran, bertanya, membaca, berdiskusi, mengamati. Bahwa beginilah nantinya seorangEngineer akan bekerja. Pak Murchami, Pak Budi, Mbak Irene, Mas Iqbal, Mas Robby yang dengan jelas memberikan gambaran itu lewat keseharian di ruangan Process Engineening(PE) dan meeting tiap pagi.
Kami belajar bahwa dengan kebersamaan yang hangatlah kita bisa bertahan dalam tekanan belasan tahun. Bahwa untuk mendapatkan manfaat yang besar, resiko yang tinggi tidak bisa dihindari. Kita justru harus berpikir keras, bersiaga, dan bekerjasama agar manfaat itu akan terus menerus dapat dihasilkan. Dengan keistiqomahan menjaga stabilitas sistem, kesungguhan memperbaiki setiap kesalahan kecil yang muncul dengan bersegera. Karena jika  menundanya, resiko besar itu akan membinasakan kita. Bapak-bapak operasi di ruang DCS yang tetap riang di tengah ancaman ledakan, kebocoran, dan ketidakamanan yang lain. Pak Panca yang supel dan lebih nyaman memanggil saya ‘Ndari’ (asal ucap aja awalnya), Pak Gatot yang alim banget (ternyata ketua panitia I’tikaf Baiturrahman), Pak Slamet yang penuh petuah, Pak Sys yang telaten menjelaskan, Pak Isjono yang selalu menggunakan bahasa Jawa, Pak Sudarko yang mengantar kami ke puncak menara primary reformer, Pak Sarjuki yang mengkhawatirkan kami hingga tidak bersedia menapak CO2stripper, pak Meki yang akrab sekali dengan kami, Pak Imam Maarif, bapak manager operasi yang memperlakukan kami seperti murid kesayangan, serta bapak-bapak baik lain yang sangat bahagia saat membagi ilmunya bersama kami. Oya, senang juga dapat menikmati fasilitas kursi pijat, pijat kaki berputar, dan tensi digitalnya. Berasa DCS rumah sendiri.
Tentang keluarga baru selepas dari pabrik, Bu Erna dan Pak Zainal yang senantiasa menyediakan pelayanan terbaik bagi tamu dua bulannya ini. Padahal membayar pun tidak, justru kami yang terus menerus menerima sebentuk kasih sayang dari orang tua yang sebelumnya sama sekali tidak kami kenal ini. Tentang teman seperjuangan yang 24 jam tidak terpisahkan. Satu kamar, satu motor, satu meja dalam ruangan PE. Saya belajar banyak dari Rani, tentang bagaimana seharusnya bertahan. Bagaimana menata segala hal yang nampak remeh tapi akan jadi masalah jika dibiarkan. Bagaimana kita harus sigap dan tanggap agar tidak tertinggal. Tanpa panggilan ibu, tanpa bantuan ibu yang biasanya saya dapat tanpa diminta. Yunus (Aceng) yang nerimo banget sama keadaannya. Qanaahnya luar biasa. Ditinggal partner KP tiba-tiba, hidup sendiri di rumah kosong ‘tama’nya (tantenya). Sudah cowok sendiri di antara kami, masak-masak sendiri, cuci baju sendiri, segala sendiri. Semangat ceng! Pulang ke Surabaya kamu bakal jadi kebanggaan mama.
Tentang semangat untuk memperbaiki diri seorang gadis belia yang masih terbata bacaan Al Qurannya. Dia memutuskan berhijrah di usia yang masih sangat muda dengan kemauannya sendiri setelah pulang dari sebuah pengajian di Loktuan. Dia menyempurnakan hijabnya, mencari saudara yang bisa membimbingnya. Islami Putri Wulandari, persis usianya dengan adik kedua saya. Pun sangat indah namanya. Pasti ibunya sangat bahagia melihat dia yang sekarang, yang menjadi jawaban atas doanya saat menuliskan nama bagi putri kecilnya itu.
Tentang 10 hari terakhir Ramadhan di Baiturrahman. Ibu-ibu tangguh yang menjadi teman kami sehari-hari. Bu Juju dengan empat putra-putrinya yang kecil-kecil. Seorang ibu yang tersenyum sepanjang waktu, bahkan saat Tsaqif sedang menangis rewel. Tidak tahan melihat pesona ibu ini, auranya memancar kemana-mana. Bu Siti Alfiah, ibunda Nibraz kecil dan Nayla. Sungguh khas tangisan Nayla, sehingga ibunya tak ragu berlari selepas salam untuk menjemput putrinya itu. Bu Dwi, ibu cantik yang senantiasa hangat menyapa kami, tidak peduli dia berada dan kami sederhana. Bu Mud, ibu mungil yang senantiasa terisak dalam setiap witir berjamaah, saat doa sapu jagad diucap, saat saudara-saudara di Palestina, Mesir, Syria, dan mujahid-mujahid lain di belahan dunia didoakan. Ibunya Syifa, yang seringkali berada di samping saya dalam shaf, yang dengan sabar membiarkan Syifa berayun di pundaknya saat bangun dari sujud dan kembali sujud, atau menggendong Syifa sambil ruku, agar putrinya itu senang, tetap tenang saat ibundanya sedang sholat. Bu Atin, yang menunjukkan kemahirannya menarik perhatian puluhan anak yang sebelumnya ramai berlarian, yang dengan mantap memberikan Hanifah yang seringkali meraih tangan saya begitu tatapan kami bertemu, lalu berpindah dari dekapan bundanya untuk dititipkan ke saya.
Bocah-bocah I’tikaf di bawah kepemimpinan Nibraz besar dan Fitri yang menghabiskan sepuluh hari mereka dengan ceria, setiap hari menciptakan episode yang berbeda. Sangat kreatif dan terstruktur. Kagum sekali pada episode dokter-dokteran. Andai saya bisa merekam semuanya. Mungkin kalianlah ‘generasi yang hilang’.
Tentang barisan dengan nyala obor layaknya belasan tahun yang lalu. Satu mahasiswi berjaket “GEMA LINCAH ISLAMI” dan satu lagi “LDJ ITS BERAKSI” menyusup di tengah barisan anak-anak yang riang mengumandangkan takbir keliling pemukiman, merebut perhatian warga sekitar. Kembang api warna-warni terus bersahutan, berebut ingin dipandang.
Tentang Idul Fitri tanpa ibu dan adik Nisa di samping saya. Tiba-tiba sesak saat mendengar adik Fajar sedang sungkem sama ibu, saat mendengar suara Bapak yang selalu tidak tahu harus berucap apa di depan putrinya, suara riang adik Nisa yang saya masih tidak percaya bahwa dia sudah kelas dua SMA. Terputus, kemudian terdengar lagi suara Budhe yang bahkan mungkin lupa bahwa saya hanya keponakannya, bukan putrinya, sehingga kasih sayangnya sama. Pun budhe dan kakak sepupu dari Kediri yang setia berpetuah demi kebaikan masa depan saya.
Tentang kawan seangkatan yang sangat terasa maknanya ketika nasib kami sama. Makan, berrally motor seharian, menetap di kamar dan berebut perhatian Dimas –adik mantan komting kami yang rumahnya Bontang- yang saat pulang cukup susah beranjak dari pangkuan saya sebelum akhirnya diambil ‘paksa’ oleh kakaknya. Lebaran tanpa keluarga tetap hangat karena ada kalian.
Tentang keluarga di rumah impian. Mas Iqbal, senior kami dari Teknik Kimia ITS beserta mbak Ayu yang menjadi bukti bahwa perempuan baik pasti dipertemukan dengan laki-laki yang baik, walau sebelumnya terpisah jarak ribuan kilometer. Buku hadiah pernikahan mereka yang baru ada di tangan saya saat si Birru sudah berumur delapan bulan sangat sarat hikmah. Dari sana saya belajar bahwa hikmah itu akan terus mengalir selama kita hidup. Sangat sayang jika dia tidak disimpan dalam bentuk tulisan. Bahwa menjadi ibu adalah tugas besar yang harus disiapkan matang-matang jauh sebelum seorang wanita ‘diminta’. Bahwa rumah adalah tempat berangkat dan kembali yang terbaik.
Tentang Dona Windy Astuti, muslimah yang baik hatinya. Mungkin jika mengenalnya lebih awal, saya akan sangat nyaman berlama-lama dengannya. Seseorang yang mengajari kebaikan-kebaikan dengan sederhana namun membekas, yang setiap ucapan dan tindakannya jauh dari menyakiti, bahagia ketika temannya bahagia. Namun saya hanya bisa mengenangnya lewat tulisan Mas Iqbal, teman kuliah yang mengabadikan nama dan kisahnya. Andai saya bertemu lebih dulu sebelum dia berpulang. Mungkin Allah ingin dia lebih terjaga di sisiNya sehingga memanggilnya lebih awal. Betapa manisnya.
Bontang. Kota kecil yang membuat saya takut. Takut lambat laun akan jatuh cinta padanya dan enggan kembali. Di sini, di ribuan kilometer dari rumah dan kehidupan saya di Jawa, saya yakin masih banyak hikmah yang belum tersingkap. Separuh jalan lagi, dan saya akan terus mencari. Kepadanya saya berjanji, tidak akan pulang ke Jawa dengan tangan hampa.
Untuk Mbak Mia, yang rela meminjami rumah keduanya untuk kami dengan cuma-cuma. Mbak Tyzha, yang merelakan motor kesayangannya kami ajak berkelana, ayah ibunya mbak Tyzha yang ramah tak terkira, dan banyak orang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu jasanya, terima kasih banyak. Cukuplah Allah yang menyediakan penggantinya untuk kalian, karena kami tak punya apa-apa yang layak diberikan.
Ya Allah, sungguh angkuh jika kami merasa lebih tahu dariMu, karena sangat benar adanya bahwa Engkau Maha Mengatur setiap kejadian. Jika semut tak Kau biarkan kelaparan, bagaimana mungkin Engkau diam sehingga kami terlantar?
Ya Allah, mohon tunjukkan yang terbaik bagi kami. Kami tidak tahu, sedangkan Engkau tahu. Hamba akan percaya sepenuhnya.

Maaf belum sempat terucap kemarin, Taqabbalallaahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum. Mungkin lebih banyak salah ketimbang manfaat yang saya bagi, mohon maaf kepada teman-teman yang menyempatkan diri untuk membaca ini. Karena Allah sudah mempercayakan ampunanNya atas kesalahan di antara kita melalui maaf yang ikhlas.

Selamat Idul Fitri 1434 Hijriah. Semoga kebaikan Ramadhan tetap terjaga hingga Ramadhan berikutnya (jika masih bertemu Ramadhan tahun depan). :)

Salam.
Bontang, 09072013-09082013
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah membaca note ini saya berharap bisa berKP ria di sebuah lingkungan yang tidak sekondusif itu. Sehingga bisa mengukur seberapa kuat iman saya ketika dihadapkan dengan lingkungan yang 'tidak biasa'. Tapi, mimpi tinggallah mimpi. Di rumah saja, iman saya turun drastis. Padahal lingkungan sekitar biasa-biasa saja. Hanya karena tidak ada kegiatan alias nganggur nggak karuan, diri semakin malas beribadah. Mana mungkin saya bisa tahan di lingkungan 'tidak biasa'. Huffttt... T.T

Probolinggo
3 Syawal 1434 H
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Seorang Arab tua tinggal sendiri di sebuah tenda dekat oase. Setiap hari ia bertanya-tanya, “Apa sih gunanya aku hidup? Kenapa aku ditakdirkan hidup disini? Setiap hari hanya pasiiir saja yang bisa kulihat.” Sampai akhir hidupnya, si Arab tua ini tidak juga menemukan jawaban atas pertanyaannya. Mayatnya tergeletak begitu saja di dekat oase, tidak ada satupun orang yang tau keberadaannya.
Suatu hari ada segerombolan kafilah dagang yang berniat untuk beristirahat di oase tersebut. Hingga akhirnya mereka menyadari ada mayat disana. Tapi, anehnya tidak ada yang peduli terhadap mayat tersebut kecuali satu orang saja. Ia mengurus mayat ini hingga tertinggal oleh teman-temannya. Karena hari sudah senja, ia memutuskan untuk berangkat esok hari saja.
Ternyata, semua orang dalam rombongan kafilah tersebut terbunuh oleh orang Arab Badui. Tidak ada satu orang pun yang tersisa. Kecuali—tentu saja—pemuda yang tertinggal di oase. Ia selamat. Dari pemuda tersebut lahirlah lima orang yang kemudian mendapat julukan Al-Amin. Keren ~

Dapat ibrahnya?
Seorang Arab tua yang merasa dirinya tidak berguna hidup di dunia ini, ternyata punya peran yang besar. Dia yang merasa hanya seseorang yang hanya bisa melihat pasir sepanjang hari, ternyata ikut andil atas lahirnya lima orang hebat yang kemudian dijuluki Al-Amin tersebut di atas. Pertanyaannya terjawab.
Kita adalah salah satu entitas dari suatu sistem besar (supersistem) dunia yang diciptakan oleh Allah SWT. Pastilah Allah mempunyai tujuan yang jelas dan semua itu sudah diatur agar menghasilkan luaran yang optimal (sesuai dengan kehendak pencipta).

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al Mukminun:115).

Seandainya si Arab tua tidak diciptakan, maka mungkin kelima orang yang berjuluk Al-Amin tersebut tidak akan pernah ada. Karena tidak ada mayat yang menghentikan perjalanan si pemuda sehingga mungkin ia juga akan mati terbunuh oleh orang Arab Badui.
Seandainya kita tidak diciptakan, mungkin saja subsistem atau bahkan supersistem dunia akan rusak atau tidak menghasilkan luaran yang optimal. Tentu saja hanya entitas yang 'berperilaku' sesuai dengan tujuan diciptakannya saja yang bisa memberikan pengaruh positif terhadap supersistem tersebut.

Dengan adanya fakta ini, kita bisa lebih tenang. Karena perasaan kita tentang hidup yang seakan tidak berguna ini ternyata salah. Setiap diri kita mempunyai andil terhadap supersistem yang kompleks ini dan tidak bisa digantikan oleh sesuatu yang lain karena hasilnya tidak akan optimal. Begitulah :)