Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Sebenarnya sudah lama ingin menulis kabar gembira ini, tapi entah yaa, mungkin di Lauh Mahfuz sudah tertulis demikian. Kabar gembira ini tertulis di blog berdebu ini tertanggal hari ini, 21 Rabi'ul Awwal 1435 H.
Yep! Tulisan ini akan mengisahkan seorang adek sepupu saya bernama Devi yang entah dengan alasan apa ingin selalu berjilbab ketika di luar rumah. Sebelumnya dia hanya berjilbab jika akan pergi ke sekolah. Di Probolinggo setiap sekolah mulai dari SD hingga SMA diwajibkan memakai kerudung bagi yang beragama Islam. Yang beragama lain menyesuaikan, tetapi tetap harus memakai rok panjang dan baju berlengan panjang.
Betapa bahagianya mendengar kalimat yang terucap darinya kala itu. "Aku juga pengen pakai kerudung terus," begitu katanya. Bahagiaaa banget rasanya. Tapi, kok sampai sekarang tak terpikir sama sekali untuk memberinya kado kerudung yaa. Hmmm. Ini kesempatan emas, tak boleh lepas. Siapa tau dia tambah rajin pakai kerudungnya entar, kan saya juga yang dapet pahala ehehe
Seperti ibadah yang lain, semua butuh penyempurnaan. Termasuk juga penampilan Devi. Alhamdulillah sudah mau terus berjilbab. Untuk urusan yang lain, sudah menjadi tugas 'kita' untuk mengajaknya menjadi lebih baik. Keep da'wah ~
Surabaya
21 Rabi'ul Awwal 1435 H
Tau semua sama binatang landak kan? Kulit yang berduri menjadi ciri khasnya. Pertanyaan saya, bagaimana cara mereka berpelukan yaa? Bagaimana cara seorang ibu landak mengungkapkan rasa sayangnya melalui pelukan kepada anaknya?
***
Saat musim dingin, beberapa hewan melakukan aktivitas rutin tiap tahun yaitu hibernasi. Landak termasuk hewan yang tidak memiliki ritual tahunan seperti itu. Mereka biasanya mencari tempat untuk menghangatkan badan, misalnya di tempat-tempat yang sempit. Namun, hal itu tak berhasil membuat suasana semakin hangat. Bahkan sudah ada beberapa dari mereka yang mati kedinginan. Karena semakin lama jumlah mereka semakin sedikit, akhirnya mereka memutuskan untuk berpelukan agar dapat mengurangi rasa dingin yang sedari tadi berhasil menusuk-nusuk tulang mereka hingga terasa nyeri. Sayangnya, solusi tersebut malah membuat kulit mereka lecet terkena duri yang menempel pada tubuh temannya. Mereka mencoba mencari solusi lain sebelum lebih banyak lagi korban hawa dingin tersebut. Sayang sekali, satu-satunya cara agar mereka dapat bertahan hidup adalah dengan berpelukan, saling berdekatan satu sama lain. Mereka melakukannya sekalipun harus lecet-lecet. Mungkin mereka berpikir, "Mending lecet kayak gini daripada mati kedinginan". Langkah yang mereka ambil tepat sekali. Memilih untuk tetap berjamaah agar bisa terus melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.
Kita sebagai umat Islam juga harusnya begitu. Sudah menjadi keniscayaan bahwa kita juga akan mengalami hal yang sama dengan landak. Dalam jama'ah, pastilah ada saja yang akan membuat hati kita lecet. Mungkin karena kesalahan teman atau lainnya. Namun, kita harus tetap berjamaah untuk mendapatkan pahala yang lebih besar dan manfaat yang tak kalah besarnya. Karena cita-cita kita, umat muslim, hanya dapat dicapai bersama-sama dengan jama'ah. Karena akan tetap ada pahala dan barokah sekalipun keputusan atau langkah-langkah yang diambil kurang atau tidak tepat, asalkan berjamaah :)
Surabaya
18 Muharram 1435
Sambil nungguin temen ngprint, ngomongin dosen yuuuk :p
Selama hidup kurang lebih dua tahun di jurusan ini, saya baru kemaren berkesempatan mengenal sosok dosen keren ini. Namanya Pak Refdinal, dosen biokimia ITS. Begitu ramah orangnya dan sepertinya akan menyenangkan jika bisa TA dengan beliau. Sayangnya sudah booking dosen lain #eh. Selain perawakannya yang menyenangkan, sepertinya hobi beliau ngutek-ngutek organisme mikroorganisme alias merekayasa genetikanya. Sepertinya bakal seru sekali :3
Hal yang membuat saya tertarik untuk membuat tulisan tentang beliau adalah kalimatnya waktu itu, "Saya suka sekali merekayasa gen bakteri". Yup! Lagi-lagi saya menemukan orang yang bekerja sesuai passion. Tidak akan terasa waktu yang kita lalui bersama kegiatan itu ketika kita benar-benar menyukainya. Pernahkah melihat anak kecil lelah bermain? Seperti itulah ketika kita sedang beraktivitas sesuai dengan passion. Waktu seakan berlalu begitu cepatnya. Energi juga seakan tak pernah habis saat itu. Saat kita sedang ber-passion ria :3
Surabaya
28 Dzulhijjah1434 H
Jika Anda bertanya, "Apa artinya?" Maka saya akan menjawab, "Ask google first!"
Hanya segelintir orang memilih hidup seperti ini. Orang-orang tertentu, bukan berarti dia hebat. Tergantung keberpihakannya, kepada kebenaran ataukah sebaliknya. Akan selalu orang-orang yang rela mati demi keberpihakannya pada kebenaran, karena orang-orang yang bersikap sebaliknya juga akan selaku ada. Dan saya percaya kebenaran selalu akan menang, cepat atau lambat. Sesuai dengan janji Allah SWT.
Orang-orang itu, yang memiliki prinsip 'Vivere Pericoloso' bukan berarti tak memiliki rasa takut. Justru rasa takut merasa lebih besar dari 'orang-orang biasa'. Bagi yang berpihak pada kebenaran, rasa takut mereka hanya untuk Allah SWT, bukan untuk hal-hal lain yang tidak perlu ditakuti. Sedangkan mereka yang berpihak pada kemungkaran, ketakutannya tak lebih baik dari orang rata-rata, bahkan mungkin lebih buruk.
Orang-orang yang memilih untuk bersikap berani itu, selalu memiliki alasan yang kuat untuk setiap pilihannya. Dengan begitu, mereka tak punya alasan untuk ragu. Selalu mantap dalam setiap langkahnya. Mewarnai hari-harinya dengan sikap yang sulit untuk dibelokkan.
Orang-orang itu yang memilih jalan berbahaya ini tak memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal kecil. Mereka hidup bersahabat dengan masalah. Karena mereka hidup adalah masalah. Yang tidak merasa bermasalah pun sebenarnya juga punya masalah. Bahkan masalah lebih besar: tidak tau masalah yang sedang ia hadapi.
Orang-orang itu, tau yang mereka pilih. Juga tau resikonya. Karena itu mereka memilihnya. Berjuang dan berkorban untuknya. Mereka memiliki alasan untuk hidup.
Dan orang-orang itu, idealisme mereka, hanya Allah SWT yang bisa mengubahnya :)
Surabaya
Hari Sumpah Pemuda
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah note yang ditulis oleh seorang mbak keren. Kisah peperangan antara Ramawijaya dan Rahwana tersebut benar-benar membuat mata saya berbinar-binar. Banyak tokoh inspiratif dalam cerita itu. Merasa senasib dengan dua orang tokoh, maka saya akan membahasnya disini.
Dua orang tokoh keren itu bernama Trikala dan Kalasekti, anak pungut dari patih Prahasta yang hampir saja menjadi korban kemurkaan Rahwana. Trikala dan Kalasekti awalnya tidak memiliki kesaktian. Tetapi, ketika melawan angkara murka, dua gunung kembar dapat mereka gerakkan untuk menghimpit Rahwana. Merasa ada yang senasib dengan Trikala dan Kalasekti di awal cerita? :)
Ketika tak ada yang bisa dibanggakan dari diri ini, setidaknya kita tetap berbuat baik dan melawan kemurkaan. Mungkin saatnya nanti, kita akan bernasib sama seperti Trikala dan Kalasekti. Allah akan memberikan kekuatan itu kepada yang setia di jalanNya. Atau jika kekuatan itu tak jua datang, yakini saja bahwa kebaikan kita tak akan sia-sia. Kata Umar bin Khaththab, kita menang bukan karena jumlah ataupun kekuatan yang melebihi musuh kita. Namun karena dosa kita lebih sedikit daripada musuh. Jika dosa kita sama dengan musuh, lalu apa gunanya kita 'berperang'? Bukankah sebaiknya kita dan mereka bersulang untuk kehancuran dunia? Semoga kebaikan yang kita lakukan dapat mempertajam pedang para mujahidin itu. Semoga kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi desir angin pengobat rasa sakit luka fisik mereka. Semoga kebaikan yang kita lakukan dapat sedikit membantu kemenangan kebenaran ini. Aamiin.
Karena tidak harus kita yang melakukannya langsung. Kegembiraan itu milik bersama, siapapun yang menjadi tokoh utamanya.
Surabaya
Menjelang 26 Oktober 2013