Diposting oleh
Unknown
di
03.41
Di 26 yang ke-21, kuberharap Engkau membantuku memperbaiki ciptaan-Mu yang telah kuperlakukan kurang baik sedemikian rupa. Hingga ketentraman yang kau tanamkan disana layu tak berdaya. Kuberharap Engkau mau membantuku. Membuatnya tumbuh lebih baik, tak lagi rapuh seperti sebelumnya.
Kekeringan yang kuciptakan sendiri membuatku layu sendiri. Mungkin Engkau sudah pernah menyiraminya, tapi aku menolak. Aku membuat keadaan semakin parah dengan berharap pada makhluk-Mu yang lain. Padahal kuasa selalu ada pada-Mu.
Engkau dan aku sama-sama tau. Betapa kondisinya begitu buruk, tapi makhluk-Mu yang lain (mungkin) tidak mengerti. Engkau memberiku kesempatan, memperbaikinya dalam diam. Tanpa sepengetahuan yang lain, aku dengan bantuan-Mu berusaha mengembalikan kebaikan padanya. Terima kasih, itu sangat membantu.
Aku yakin, Engkau mau membantuku. Mengembalikannya ke keadaan semula. Sekalipun akan tetap ada bekas sayatan disana-sini, setidaknya keadaannya membaik. Segala puji bagimu ya Allah, atas makhluk-Mu yang bersamanya ku membuat catatan amal-amal ini. Semoga barokah dan membawa pada kebaikan. Aamiin.
Rumah, 26 Oktober 2014 (2 Muharram 1436) | @dyahokta_via
Diposting oleh
Unknown
di
05.04
Warna catnya belum berubah. Masih berwarna hijau seperti saat
terakhir aku melihatnya. Warna cat yang aku pilih saat bapak dan ibu
menanyaiku. Hanya ada dua tiang penyangga di depan. Jarak antara sisi
kiri dan kanan tidak lebih dari enam meter. Jika kau berhadapan
dengannya, maka tiang pertama terletak pada nol meter pertama dari kiri.
Tiang kedua berjarak sekitar tiga meter dari tiang pertama. Tiga meter
berikutnya tanpa tiang penyangga. Atap teras tanpa penyangga ini
berbentuk setengah lingkaran dengan jari-jari yang tidak panjang,
melengkung dari kiri ke kanan. Karena jarak lantai teras dan lantai di
sekitarnya seperempat meter, maka kami menyiapkan tangga pendek dengan
hanya dua anak tangga saja. Ada di depan dan samping kiri. Di samping
kiri, ada bidang miring terletak di tengah dengan lebar sekitar tiga per
empat meter. Sangat memudahkan kami saat menurunkan motor dari teras.
Teras ini biasa dijadikan tempat parkir motor keluarga kami. Jika motor selesai dipakai dan akan dipakai lagi, maka ia diparkir disana. Juga tempat nyangkruk bersama tetangga. Kegiatan yang tidak biasa dilakukan di tempat rantau. Jika ingin merasakan keakraban bersama saudara atau tetangga, tempat ini menjadi salah satu tempat andalanku. Hmmm… sepertinya aku sedang merindukan tempat ini.
Teras ini biasa dijadikan tempat parkir motor keluarga kami. Jika motor selesai dipakai dan akan dipakai lagi, maka ia diparkir disana. Juga tempat nyangkruk bersama tetangga. Kegiatan yang tidak biasa dilakukan di tempat rantau. Jika ingin merasakan keakraban bersama saudara atau tetangga, tempat ini menjadi salah satu tempat andalanku. Hmmm… sepertinya aku sedang merindukan tempat ini.
Surabaya, 22 Oktober 2014 | @dyahokta_via
Diposting oleh
Unknown
di
03.48
http://hdwallsource.com
Dan alarm itu berdering lagi. Anehnya selalu pada detik yang tepat. Saat kenangan mulai menyerbu angan, dan rindu menjadi semakin tak tertahan.
Pagi yang masih begitu pekat, hingga indra belum dapat membedakan antara ia dan waktu beberapa jam sebelumnya. Kecuali indra istimewa itu, yang dititipkan Rabb pada hamba pilihan.
Kemudian memaksa terbangun. Terdorong hasrat untuk menjemput cinta. Katanya ini saat yang paling tepat. Karena pada waktu ini, cinta masih pekat. Begitu pekat, hingga dapat menderingkan alarm bernada lembut yang hanya dapat dirasakan oleh hamba pilihan.
Detik itu sudah lewat. Menyusul detik-detik yang lain. Mata masih terpejam. Begitupun hati. Menyebut nama, membilang pujian. Rentetan kalimat pengantar ketentraman. Masih tak bosan, menyebut nama dan membilang pujian. Lagi, terus. Semoga, menjadi amalan yang baik. Pengantar jiwa pada pencipta, di sisi yang baik. Aamiin.
Surabaya, 21 Oktober 2014 |
Diposting oleh
Unknown
di
11.41
Kadang aku sendiri bingung. Berkali-kali aku melakukannya, tapi tak
pernah jera mengulanginya kembali. Padahal, harus ku harus mengorbankan
perasaan orang lain untuk setiap pengulangan kisah seperti ini.
Harus bagaimana? Aku tak bisa menolak perhatianmu. Setiap hal yang kau berikan, tak ingin ku menyia-nyiakannya. Karena jujur saja, aku memang menginginkan dan mengharapkannya. Apapun itu, asal darimu.
Ku tau ini salah. Tapi, aku menikmatinya. Ku pikir semuanya akan baik-baik saja jika diantara kita belum terjalin ikatan melebihi teman. Biarlah perasaan itu tumbuh seliar yang ia mau. Biarkan aku mendapatkan perhatianmu melebihi yang lain. Biarkan aku menikmati perasaan yang dibungkus tali pertemanan ini. Begitu pikirku pada awalnya.
Namun, ternyata aku masih menjadi penakut. Ketika perasaan ini mulai tumbuh dan begitu terasa, aku ingin menjauh. Ketika kau sudah berani bersikap melebihi biasanya, aku ingin semua kembali ke titik awal. Ketika tidak hanya kita yang merasakan kehadiran perasaan itu, aku ingin menyudahinya. Karena aku harus menjaga diriku dan identitasku. Karena aku ingin memiliki perbedaan dengan mereka yang belum belajar. Karena aku harus menjadi seseorang yang pantas untuk ditunggu. Maaf, lagi-lagi aku harus egois.
Harus bagaimana? Aku tak bisa menolak perhatianmu. Setiap hal yang kau berikan, tak ingin ku menyia-nyiakannya. Karena jujur saja, aku memang menginginkan dan mengharapkannya. Apapun itu, asal darimu.
Ku tau ini salah. Tapi, aku menikmatinya. Ku pikir semuanya akan baik-baik saja jika diantara kita belum terjalin ikatan melebihi teman. Biarlah perasaan itu tumbuh seliar yang ia mau. Biarkan aku mendapatkan perhatianmu melebihi yang lain. Biarkan aku menikmati perasaan yang dibungkus tali pertemanan ini. Begitu pikirku pada awalnya.
Namun, ternyata aku masih menjadi penakut. Ketika perasaan ini mulai tumbuh dan begitu terasa, aku ingin menjauh. Ketika kau sudah berani bersikap melebihi biasanya, aku ingin semua kembali ke titik awal. Ketika tidak hanya kita yang merasakan kehadiran perasaan itu, aku ingin menyudahinya. Karena aku harus menjaga diriku dan identitasku. Karena aku ingin memiliki perbedaan dengan mereka yang belum belajar. Karena aku harus menjadi seseorang yang pantas untuk ditunggu. Maaf, lagi-lagi aku harus egois.
Surabaya, 3 Oktober 2013 | @dyahokta_via
Diposting oleh
Unknown
di
15.06
Pernah merasa hatimu
dibolak-balik seratus delapan puluh derajat? Saya pernah! Memang hanya berupa hal-hal kecil, tapi
bukankah seorang bayi bisa tumbuh menjadi raksasa seperti Hagrid? Iya, gak ada
hubungannya. Gak usah dipikirin.
Pertama, pengalaman
saya bersama mie instant rasa soto. Dulu, saya sekali mie instant rasa soto.
Tiap pengen masak mie, pilihan saya selalu jatuh pada mie instant rasa soto
(jika sedang tidak ingin mie goreng, mie ayam dan mie instant rasa lainnya :P).
Hingga suatu ketika tubuh saya diserang virus. Saya sakit! Panas dan mual. Pada
saat lidah tak lagi bisa merasakan nikmatnya makanan enak, saya memilih mie
soto sebagai makanan pokok selama sakit. Memang, saya menikmati mie tersebut.
Tapi, beberapa saat setelah itu saya dipaksa untuk mengeluarkannya melalui
organ yang sama saat saya memasukkannya. Rasanya tentu saja GAK ENAAAAAKKKKK!!!
Sejak saat itu saya trauma, saya tidak mau lagi makan mie soto meski dalam
keadaan sehat. Jangankan makan, mencium baunya saja sudah berhasil membuat saya
sedikit mual. Hmmm... iya, memang berlebihan. Tapi, itulah yang terjadi. Kecintaan
saya terhadap mie soto dibalik seratus delapan puluh derajat! Sangat menyedihkan, bukan? Tapi,
hal itu tidak berlangsung lama. Setelah lelah membenci mie instant rasa soto,
saya kemudian memberanikan diri untuk mencobanya kembali. Rasa tersebut muncul
saat saya tidak lagi merasa mual saat mencium baunya. Dan ternyata berhasil!
Iya, hati saya berhasil dibalik lagi seratus delapan puluh derajat! Luar biasa!
Kedua, kali ini
tentang anime. Iya, yang lagi banyak digandrungi para pemuda pemudi itu loh. Awalnya,
saya merasa heran. Kok ada ya yang suka sama anime Naruto yang sama sekali
tidak menarik itu? Bukan Cuma kisahnya yang boongan, orangnya juga boongan!
Kalian tau kan kalo yang bergerak-gerak itu Cuma gambar bukan orang? Tau kan?
Terus kenapa masih suka? Apa menariknya? Dan, hmmm... saya mengerti perasaan
kalian sekarang. Anime itu memang menarik! Memang kisahnya boongan. Memang
orangnya juga boongan. So what?
Masbuloh? Ceritanya menarik kok! Dan terkadang ada pelajaran yang bisa kita
ambil. Percaya deh.
Ketiga, terong!
Warnanya ungu, lambang wanita sholihah (?). Masakan terong sama sekali tidak
menarik awalnya. Dan memang seperti itu hingga sekarang. Tidak ada yang menarik
dari tampilan sebuah terong! Sama sekali tidak ada! Tapi, kenapa saya jadi suka
padahal awalnya tidak? Jadi, ceritanya begini *benerin kerudung*. Dahulu kala
waktu saya masih imut-imut, saya dan teman-teman seperguruan (?) diundang untuk
membaca dhiba’ dan doa-doa oleh
seorang tetangga. Setelah semuanya selesai, kami dijamu dengan masakan terong.
Karena tidak ada pilihan menu lain, saya terpaksa memakan terong tersebut
padahal awalnya tidak suka. Saya tidak suka bentuk dan warnanya. Jadi, saya
tidak pernah makan terong sebelumnya. Saya mencoba untuk berani memakannya.
Gigitan pertama. Gigitan kedua. Gigitan ketiga. Dan OMG KOK RASANYA ENAK
BEGINIIIHHH??? KENAPA GAK ADA YANG NGASIH TAU KALO RASANYA ENAAAKKK??? Dan
setelah itu saya mulai menyukainya. Seratus delapan puluh derajat lagi.
Keempat? Apa yang
keempat? Saya cari dulu ya. Entar saya tulis disini. Oke? ;)
Langganan:
Postingan (Atom)

